Jumat, 17 Januari 2020

Makna Tembang Mocopat

Urutan, Arti, dan Watak Tembang Macapat:


1.   Maskumambang (dalam kandungan)
Dalam bahasa jawa "kumambang" yang berarti mengambang. Menggambarkan bayi manusia yang masih mengambang di perut ibunya. Watak lagu ini nelangsa lan keranta-ranta. 

2.   Mijil (lahir)
Dalam bahasa jawa "mijil, mbrojol, mencolot" yang berarti muncul atau keluar. Menggambarkan kelahiran bayi. Watak lagu ini asih lan tresna.
                                             
3.   Sinom (muda)
Dalam bahasa jawa "kanoman" yang berarti muda atau usia muda. Menggambarkan cerita masa muda yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan dan mencari ilmu untuk mewujudkannya. Watak lagu ini grapyak lan renyah.

4.   Kinanthi (tuntunan)
Dalam bahasa jawa "kanthi" yang berarti tuntunan atau dituntun untuk menggapai masa depan. Menggambarkan masa di mana manusia membentuk jatidiri dan meniti jalan menuju cita-cita.

5.   Asmaradana (asmara)
Dalam bahasa jawa "tresna" yang berarti cinta atau kasmaran. Menggambarkan masa di mana manusia dirundung asmara, dimabuk cinta, ditenggelamkan dalam lautan kasih. Watak lagu ini sengsem.

6.   Gambuh (kecocokan)
Dalam bahasa jawa "jumbuh atau sarujuk" yang berarti cocok. Menggambarkan komitmen manusia yang sudah menyatakan cinta dan siap untuk berumah tangga. Watak lagu ini kulina lan nepung-nepungke.

7.   Dandhanggula (senang)
Dalam bahasa jawa "kasembadan" yang berarti kesenangan. Menggambarkan keberhasilan membina rumah tagga dan cita-cita yang tercapai. Watak lagu ini luwe lan ngresepake.

8.   Durma (dermawan)
Dalam bahasa jawa "darma atau weweh" yang berarti dermawan dan senang bersedekah. Menggambarkan wujud dari rasa syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan semua yang terbaik. Watak lagu ini nesu lan muntab.

9.   Pangkur (menjauhi hawa nafsu)
Dalam bahasa jawa "mungkur" berarti menjauhi. Menggambarkan manusia yang menyingkirkan hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwanya. Watak lagu ini sereng lan tegas.

10. Megatruh (kematian)
Dalam bahasa jawa "megat roh" yang berarti keluarnya roh/kematian. Menggambarkan terlepasnya roh atau kematian manusia. Watak lagu ini nglara lan sedih.

11. Pocung (dibungkus mori putih)
Dalam bahasa jawa "pocong" yang berarti sudah dibungkus. Menggambarkan kematian manusia lalu dimandikan, dishalatkan, dan siap dikuburkan. Watak lagu ini sembrana, gecul, ora ana greget saut.

Demikian dan untuk sebagai renungan kita .....

https://papurgragrahaprima.blogspot.com
https://papurgragrahaprima2018.blogspot.com
https://purnabhaktigrahaprima.blogspot.com
https://keluargapaguyubanpapurgra.blogspot.com gpi
grahaprima12.blogspot.com › 2019/04 › papurgra-graha-prima-april-2019 punya papurgra

https://youtu.be/24ecIcLtK6I
https://youtu.be/nSACxYTRC9U
https://youtu.be/SJfMfAuYtTc
https://youtu.be/OVdU13k99TY
https://youtu.be/C-Q8kqHFvg0
https://youtu.be/x_8-kp13oz0
https://youtu.be/-ERSrmDSfNQ
https://ilmubermakna12.blogspot.com/
https://goo.gl/maps/dWjvTeuxSm2ctjwG9
https://rezmadelesindah.blogspot.com
https://goo.gl/maps/dWjvTeuxSm2ctjwG9

“Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati, Yakni satu hati menangis satu hati bersabar”








Jumat, 01 November 2019

MAKNA DALAM MENSYUKURI NIKMAT

Mensyukuri Nikmat Itu Indah

Indahnya Bersyukur Atas nikmat yang ada sejauh mata memandang alam jagat bumi raya ini dan luasnya cakrawala (langit) membentang dari segala penjuru hingga daya lihat manusia tidak mampu menghitung luasnya cakrawala serta bertaburnya kelap-kelip bintang yang indah di atas sana.
Keindahan laut, bumi yang kita pijak setiap hari serta pesona alam
menyuguhkan keindahan dan rasa damai setiap mata yang melihatnya.

Udara yang kita hirup setiap hari, tiap waktu dan bahkan setiap hela nafaskita,
sebagai makhluk hidup, tentunya kita membutuhkan yang namanya udara.

Belum lagi matahari yang memberi dampak hangat terhadap kita,
mendatangkan hujan, dan bahkan
hancurlah dunia ini kalau matahari
yang setiap hari kita lihat itu tidak ada.

Betul...???, saudaraku .....
Adakah diantara saudaraku sekalian yang lima menit saja tidak membutuhkan
terhadap udara? atau diantara saudaraku sekalian ada yang tidak
membutuhkan matahari satu hari saja? tentunya tidak ada saudaraku,
karena semuanya itu adalah kebutuhan kita yang apabila tidak ada semua itu
hancurlah kita semua.
semuanya itu adalah bukti kebesaran Allah Maulana,
Dzat yang tahu akan kebutuhan kita semua.

Lebih dekat lagi saudaraku setiap detik atau bahkan lebih kecil dari itu kita
senantiasa membutuhkan nikmat Allah sebagaimana kita bernafas, bergerak
dan disetiap detak jantung kita membutuhkan Allah sebagai Dzat yang
menghidupkan kita. Kita tidak pernah berpikir selama ini saudara
ku bahwa semua
alam ini dan semua ciptaan Allah bersatu padu untuk memberi kehidupan
terhadap kita. Apapun bentuknya baik dapat dilihat atau yang tidak pernah
kita lihat semuanya itu satu kesatuan yang disediakan untuk kita.

Berapa kali kita menikmati pemberian Allah dalam sehari saudara?,
berapa kali kita bernafas setiap waktu? dan sudah berapa lama kita hidup didunia ini? Lalu, apakah kita sudah bersyukur terhadap semuanya itu?
Kita selamanya tidak akan pernah mampu menghitung nikmat Allah
sementara setiap waktu, tiap hela nafas kita dan disetiap detak jantung kita ada
nikmat Allah yang kita pakai saudara. Kita sombong, pengecut, dan ingkar terhadap semua nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita. Jadi jangan heran kalau Allah menurunkan azab yang pedih kepada kita berupa banjir melanda, longsor bahkan
kemiskinan dan penderitaan ada di sekitar kita. Karena janji Allah dalam
kitabnya

Artinya: Apabila kamu bersyukur (terhadap nikmat Allah) niscaya Allah
akan menambah nikmat terhadapmu, (namun ingat saudaraku)
dan apabila Kamu ingkar terhadap nikmat-Ku (firmanAllah),
ketahuilah siksa Allah itu sangat pedih.

Mensyukuri nikmat Allah bagaimana tidak tidak cuma di ucapkan dengan lisan
seperti kebanyakan orang cuma melafalkan Alhamdulillaaah sudah kenyaaang,
itupun sesudah makan saudaraku.

Tetapi bagaimana bersyukur terhadap Allah juga dikerjakan seluruh
anggota badan dengan melakukan semua perintahnya,
menjauhi larangannya misalnya, atau bentuk lain yang dapat
menghambakan diri kepada Allah Subhanahu
Waa Ta’ala.
Selain itu juga mengakui dalam hati kita bahwa apapun yang kita lihat dan kita
rasakan adalah milik Allah sang pencipta seluruh
isi Jagad Alam Raya ini.

Kalau kita sudah mensyukuri semua nikmat Allah yang diberikan kepada kita
itu maka kita akan mendapatkan reward atau diskon berupa nikmat yang
tak terhingga nilainya, lebih dari yang kita harapkan sebelumnya.
Amiin ... Allahumma Amiin...

Tetapi
kalau tidak pernah bersyukur atau bahkan ingkar terhadap nikmat Allah
maka jangan pernah menyalahkan Allah kalau Beliau tidak sayang lagi karena
datangnya berupa adzab lebih pedih dari yang bayangkan. Naudhubillah
.....

Marilah mulai detik ini satukan tekad, bulatkan niat untuk selalu bersyukur
terhadap nikmat Allah Sang Penguasa Jagad Raya ini sebagai bentuk penghambaan
diri kepada Allah Azza Wajalla, Dzat yang telah menghidupkan kita dan
menyayangi tanpa melihat status sosial, derajat maupun pangkat dlsbnya.

Yaa Allah ... Yaa Robb ... kehadap-Mu hamba berserah diri, jadikanlah kami
orang-orang yang senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang tidak pernah
kami ketahui bilangannya. hanya engkau yaa Allah ... yaa Robb ...
kami memohon pertolongan-Nya.
Amiin yaa rabbal‘alamin ...















Rabu, 14 Juni 2017

Perbanyak Amal Untuk Bekal Kita Di Akhirat

Assalamu’alaikum, Wr.Wb.

Perbanyak Amal Untuk Bekal Kita Di Akhirat
Dan Kita Terselamatkan Dari Siksa Api Neraka
Suatu saat manusia akan berkumpul di padang mahsyar, dan mereka di bagi sesuai dengan amal masing-masing. Sebelum tiba masa tersebut, hendaknya seseorang mempersiapkan bekal yang membantunya menuju jalan yang aman, yaitu dengan Memperbanyak Shadaqah. Tentang hal ini Allah SWT. berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepadamu, sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah, orang-orang dzalim’’. (QS.Al-Baqarah [2] : 254 ).
Al-allamah abdurrahman bin nashir as-saadi berkata: Ayat ini menunjukan kelembutan Allah terhadap para hamba-Nya. Sebab, Allah memerintahkan mereka untuk mempersembahkan sesuatu yang Allah berikan kepada mereka, berupa shadaqah wajib (zakat) dan sunnah, agar hal itu menjadi tabungan dan pahala yang banyak bagi mereka pada hari orang-orang yang beramal butuh kepada setitik kebaikan. Tidak ada lagi perniagaan di hari itu. Andai seseorang menebus dengan emas sepenuh bumi dari siksaan pada hari kiamat maka tidak akan diterima darinya. Tidak akan bermanfaat baginya seorang kekasih dan sahabat, baik itu karena kedudukannya atau syafa’atnya. Itulah hari yang merugi dan para pelaku kebathilan di dalamnya, dan akan terjadi kehinaan bagi orang-orang yang dzalim.
Paradigma Kaya dan Fakir Bagi Hakekat Manusia
Kadang muncul pertanyaan, mana yang lebih baik antara fakir dan kaya. Ternyata menjadi kaya lebih baik, jika kita menyimak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini dengan sepenuh jiwa.
Kaya menurut definisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan orang yang banyak harta. Beliau bersabda:
Kaya itu bukanlah banyaknya harta. Namun kaya yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Suatu ketika, Rasulullah mengajari Abu Dzar dengan bertanya terlebih dahulu.
Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?” Aku (Abu Dzar) menjawab, “Betul.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” Aku menjawab, “Betul ya Rasulullah.” Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati sedangkan fakir adalah fakirnya hati” (HR. Ibnu Hibban; shahih)
Jadi menurut Rasulullah, hakikat kaya bukanlah karena banyaknya harta. Melainkan dilihat dari karakternya yang tidak merasa kekurangan, justru merasa cukup dengan pemberian Allah dan ringan tangan dalam membantu sesama dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.
Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam At Tadzkirah, “Pada hakikatnya, orang yang memerlukan itu faqir meskipun ia memiliki banyak harta. Sedangkan orang yang merasa cukup dengan Tuhannya, dia itulah orang kaya.”
Orang banyak harta tetapi hatinya bergantung pada harta serta rakus terhadapnya, sesungguhnya ia miskin,” lanjut Imam Al Qurthubi.
Dengan definisi kaya dari Rasulullah ini, Abu Ali Ad Daqqaq menyimpulkan: “Kaya lebih utama daripada faqir. Karena kaya adalah sifat Allah sedangkan faqir adalah sifat makhluk.”
Karena kaya adalah soal karakter, maka setiap orang bisa menjadi kaya tanpa menunggu memiliki banyak harta. Tinggal mengubah paradigma dan sikap kita; bersyukur dengan pemberian Allah, tidak bergantung kepada dunia, jangan suka meminta kepada sesama manusia dan biasakan menjadi dermawan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Wallahu A’lam Bishawab.
Jika kita selalu mensyukuri apa yang kita miliki, kita telah selangkah sampai pada kebahagiaan.
Robbigh firli waliwali dayya warhamhuma kama robbayani shoghiro
“Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah mereka berdua sebagaiaman mereka telah mendidikku diwaktu kecil”

Wassalamu’alaikum, Wr.Wb.






Minggu, 09 Oktober 2016

Aku Anak Desa

Bersyukur Aku Menjadi Anak Desa
Pada dasarnya manusia hidup di alam bumi jagad raya ini sepertinya sudah memiliki garis nasib dan takdir dalam kehidupannya oleh Tuhan Sang Maha Pencipta (Allah SWT) yang mutlak memiliki semesta alam ini, dari yang diberikan rejeki melimpah (kaya) hingga sampai yang belum mempunyai harta atau disebut kurang mampu (miskin), dari yang memiliki bentuk tubuh sempurna (ganteng, perkasa, cantik, rupawan) sampai yang cacad sejak dilahirkan.

Dan itu semua adalah suatu karunia Illahi, yang tentunya harus kita terima dan disyukurinya pula, tinggal kita sebagai manusia bagaimana untuk menyikapinya, siap atau tidak atas semua pemberian karunia itu, karena menurut agama itu semuanya hanyalah sebagai cobaan hidup.

Aku dilahirkan disuatu Dusun (wilayah diantara nama Desa) yang masih termasuk bagian wilayah Kabupaten Wonosobo, daerah yang cukup subur, lahannya lebih cocok untuk pertanian dari bercocok tanam padi, palawija, sampai sayur mayur, masyarakatnya terdiri dari petani, buruh, pedagang, dan bahkan ada diantaranya yang berprofesi sebagai Guru/Pendidik (pegawai pemerintah).

Orangtuaku adalah pekerja sebagai buruh (tukang kayu), aku adalah diantara empat bersaudara semua laki-laki, kakak yang nomor dua telah menghadap Sang Khaliq meninggalkan kami, aku dilahirkan kembar, dan kembaranku pula telah dipanggil Sang Khaliq sejak umur berjalan satu tahun, sehingga aku tidak sempat melihat atau tahu wajah kembaranku itu, orangtuaku dari penghasilan sebagai pekerja buruh hanya cukup untuk biaya sehari-hari, itupun terkadang kurang, mengingat pada saat itu tenaga buruh sebagai tukang jarang dibutuhkan. Sehingga orangtuaku beralih sebagai buruh serabutan demi kelangsungan hidup sekeluarga. Bahkan Simbok (ibu) sempat berdagang sayuran guna membantu meringankan Bapak, namun oleh Bapak dilarang kasihan katanya, karena berdagang sayuran dengan penghasilannya tidak seberapa nanti capek malah sakit dan justru merepotkan, betapa tidak dari rumah kepasar cukup jauh dengan selalu berjalan kaki menggendong dagangannya. Saat itu aku sempat berpikir, jika aku bisa aku akan bantu kedua orangtuaku namun karena aku masih kecil hanya cuma merasa kasihan. Aku bersyukur dimasa itu dalam keadaan istilah paceklik pangan, aku sekeluarga tetap diberikan sehat meskipun bahan pokok makanan utama nasi terkadang tidak selalu beras, karena kurang mampunya daya beli saat itu. Bagi masyarakat setempat nama bulgur, mie atau singkong dibuat leye (tiwul) menjadi bahan pokok konsumsi sehari-hari.

Aku dan kakakku adalah anak yang berbakti selalu penurut dan tidak pernah membantah kepada orangtua, dan meskipun tidak khatam al-Qur’an orangtuaku selalu mengingatkan aku dan kakakku untuk belajar mengaji di Masjid (ainurrohman). Kakakku mengenyam pendidikan hanya sekolah dasar (sd) sebenarnya kakakku pintar dan memiliki kepandaian lebih terutama di bidang seni (lukisan) terbukti membuat wayang jawa dari kertas karton maupun kulit cukup bagus dan lukisan kaca untuk pintu atau jendela, sehingga menjadi profesi lukis di kampungnya dan mendapat imbalan meskipun tidak banyak. Kakakku sudah berkeluarga dikaruniai satu anak perempuan dan telah berkeluarga, dan kehidupan sehari-hari sebagai petani dikampungnya.
Akupun sekolah sama seperti kakakku hanya lulus sd, ingin sekali ke tingkat lanjutan namun keberadaan orangtuaku yang hidup pas-pasan sehingga tidak mungkin keinginannya dikabulkan, bahkan Simbok (ibu) dengan lirih mengatakan, Tut sing sabar yaa … nyong ngerti kekarepane deke, kepingin sinau sing luwih, nanging Bapak lan Simbok hura bisa ngragati sekolahmu. . . .” kemudian Simbok menangis dan mendekapku mengusap kepala dengan kasih sayangnya. Dan aku menjawab, Simbok . . . nyong ngerti … hura papa . . .” airmataku menetes penuh keharuan. Dan sampailah aku dititipkan di Panti Asuhan agar aku tetap bisa bersekolah tanpa biaya dari orangtuaku, terbayang aku bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (smep/ setingkat sltp). Namun ternyata untuk penerimaan siswa di sekolah tersebut sudah terisi penuh, sehingga aku didaftarkan diterima di sekolah Sekolah Teknik Negeri (stn) Wonosobo.
*** nama tempat sekolah tersebut sekarang telah diganti (sltp/smk)

Aku sebenarnya termasuk anak yang patuh terhadap orang tua tekun serta cukup cerdas dan pandai di sekolah, terlihat dari hasil nilai raport maupun ijazah sekolah dasar yang aku miliki, dengan nilai raport diatas rata-rata dan ternyata aku termasuk ranking lima besar, sebenarnya aku berkeinginan melanjutkan sekolah di bidang ekonomi, dengan harapan kelak usai lulus bisa bekerja di instansi perkantoran swasta atau pemerintah, terbukti dari hasil nilai semester pertama di sekolah teknik ternyata aku masih memiliki nilai baik. Namun kembali bahwa karena kurang cocoknya menuntut ilmu ditempat sekolah tersebut terpaksa aku keluar bersekolah.

Setelah keluar dari sekolah aku mencari pekerjaan dan mendapat di suatu perusahaan makanan milik orang cina di kota Magelang, ternyata bekerja ditempat milik orang cina tersebut sangatlah dirasakan berat, bangun jam empat pagi selesai hingga jam enam sore, baru aku menyadari bahwa bekerja hanya mengandalan tenaga tanpa ditunjang atau tidak memiliki persyaratan pendidikan formal jauh akan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, berbeda apabila memiliki ijazah yang merupakan persyaratan utama dalam melamar pekerjaan, akan menjadikan kemudahan dalam memperoleh pekerjaan yang layak, (itulah pentingnya ilmu di awali dengan bersekolah).
Namun ibarat nasi telah menjadi bubur yang tidak akan mungkin sesuatu yang telah terjadi, akan bisa terulang kembali, bahkan saat itu aku sempat menyesali kekeliruan atas egonya diriku dengan sekolah yang dianggap tidak cocok, hingga airmatalah yang keluar dipelupuk menangis sedih, apalagi setelah tiga tahun kemudian, dengan melihat teman-teman yang mampu melanjutkan ke jenjang sekolah menengah tingkat pertama (sltp) maupun teman siswa eks sekolah teknik saat kelulusan dengan riangnya bersorak saling memberikan ucapan, tambah teriris rasanya hati ini.

Terlebih lagi teringat saat waktu masih berada di salah satu Panti Asuhan di kota Wonosobo dan memang disitulah aku mendapat hikmah makna kehidupan, ditambah bahwa aku memang termasuk kategori keluarga kurang mampu sehingga orangtua untuk menyekolahkan aku saja harus dititipkan ke Panti Asuhan, meskipun dengan ketidak cocoknya aku bersekolah.

Aku merantau di kota besar sejak keluar dari sekolah teknik negeri waktu itu masih kelas satu, mengingat saat itu Aku tidak cocok dengan nama sekolah yang siswanya semuanya laki-laki. Sehingga kuputuskan untuk keluar dan tidak bersekolah, dalam benak lebih baik pergi merantau meskipun jauh sekaligus mencari pekerjaan, hingga sampailah aku sekarang berada di kota Bekasi. Dan aku sudah berkeluarga serta dikaruniai dua anak laki-laki semuanya sudah bekerja.

Dalam setiap akan pulang kampung halaman tempat aku dilahirkan, pulang selalu melewati jalan dimana awal aku pernah bersekolah, tempat panti asuhan, dan tempat-tempat yang pernah aku singgahi, terbesit bayangan masa lalu yang penuh kenangan, bayangan dimana masa-masa kecilku yang menjadikan airmata ini selalu menetes menangis. Baik itu kawan, sahabat, tempat bermain, tempat sekolah, panti asuhan, dan dimana aku dibesarkan hingga remaja yang menjadikan semuanya teringat, justru membuatku semakin keharuan yang mendalam.
Kenangan yang tak pernah aku lupakan, disuatu pulang kampung dari perantauan tempat aku mencari nafkah untuk tujuan selain ke orangtua yang utama aku kunjungi (waktu beliau masih hidup) juga adalah sahabat karibku, dan kemudian keluarga famili lainnya. Kenapa musti sahabat karib yang termasuk prioritas untuk ketemu, dialah sahabat karib juga teman diwaktu sekolah dasar yang selalu memberikan dorongan moril dan motivasi, selalu konsisten dengan ucapannya. sekarang sahabatku sudah berkeluarga dengan satu isteri yang cantik dan dikaruniai dua putri, satu putra, serta kehidupannya berkecukupan meskipun hanya menjadi petani dikampungnya. Subhanalloh Allahu Akbar….!!!

Memang aku sadari bahwa hidup manusia telah diatur oleh Sang Maha Pencipta/Maha Kehendak (Allah SWT), namun sebagai manusia harus selalu tetap berusaha selain do’a yang menjadi utama, dan selalu ingat adalah pesan Orangtua dan Bapak, Ibu Guru, yang tidak akan mungkin aku lupakan; Selalu Berdo’a, Niat, Selalu berusaha, Jangan sombong, Selalu merendah bertutur kata, Memberikan/berbagi sesuatu (ilmu, pengalaman, dan mau bersedekah) untuk bermanfaat bagi orang lain, dan selalu melaksanakan kewajiban (agama) sebagai umat melalui tuntunannya.
do'a kami untuk orangtuaku: 
Robbigh firli waliwali dayya warhamhuma kama robbayani shoghiro
“Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah mereka berdua sebagaiaman mereka telah mendidikku diwaktu kecil”

Wonosobo,  Muharram 1438 H.
(lare nggunung)




Senin, 16 Mei 2016

Pantai Widuri Pemalang

Asal Usul Nama Widuri
Pantai Widuri merupakan salah satu oyek wisata kabupaten Pemalang yang sudah cukup dikenal di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura). Terletak di Desa Widuri, kabupaten Pemalang, sekitar 3 kilometer ke arah utara dari Alun-alun Pemalang. Mulanya Pantai ini dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Tlincing. Kemudian dijadikan daerah wisata oleh Pemda Pemalang dan diberi nama Widuri, sesuai dengan nama desa di mana pantai itu berada, kalau di Jakarta Pantai Ancol.
Nama pantai Widuri diambil dari legenda Nyi Widuri. Ia seorang wanita cantik jelita yang hidup di desa tersebut. Jika Anda sedang berada di ibukota kabupaten Pemalang atau tepatnya berada di alun-alun kota maka cobalah anda menghadap utara maka akan terlihat jalan lurus dari depan kabupaten sampai ke pantai Widuri. Konon, menurut legenda Pemalang, jalan lurus tersebut dibuat oleh seorang Patih yang sangat sakti mandraguna. Apabila diperintah, beliau selalu menjawab sampun (sudah terlaksana), kemudian Patih itu dikenal dengan nama Patih Sampun.

Sebenarnya garis pantainya tidak terlalu luas. Jika Anda berencana melewati daerah Pemalang setelah Lebaran dan berniat mampir ke pantai ini, maka bersiaplah untuk terkejut. Pada saat Lebaran, pantai ini akan sangat penuh dengan pengunjung. Begitu padat oleh warga setempat maupun wisatawan. Laut Jawa nan lepas menjadi panorama utamanya.
Pantai Widuri Pemalang menyajikan pemandangan alam nan eksotis namun ekonomis ini banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. menikmati ASRInya alam Widuri dengan Duduk di bawah pohon pinggir pantai bersama keluarga, adapun tiket masuk cukup membayar Rp. 5.000,-/kendaraan roda empat.

Pada bulan-bulan tertentu dapat dijumpai pasangan pengantin (lengkap dengan baju kebesarannya) tengah menikmati bulan madu mereka. Konon dengan berekreasi ke Pantai Widuri akan memperkuat jalinan cinta dan kesetiaan mereka.
Bagi sebagian pengunjung, bermain air di pantai merupakan favorit mereka, terutama anak-anak yang tampak begitu asik menikmati bermain air di pantai lepas. Menggunakan pelampung kecil, anak-anak juga bisa berenang di tepian pantai dengan pengawasan orang tua tentunya agar tidak ada kecelakaan.
Selamat menikmati Wisata Pantai Widuri bersama Keluarga.
Sumber: media wisata daerah